MENYESAL tidak ada guna. Sudah pasti, kalau dulu tidak tergoda dengan yang namanya “pacaran, ” mungkin saja saya tidak akan merasakan kekecewaan seperti dulu – sakit akibat ulah sendiri.
Saya Ayu, waktu itu masihlah 19 th.. Pertama kalinya saya terjerumus ‘pacaran’ yaitu waktu kuliah semester 3. Sewaktu SMP serta SMA belum pernah meskipun ‘pacaran. ’ Bila naksir-naksir sih, sudah pasti pernah – lumrah karena masih normal.
Awalannya tidak terlalu memikirkan miliki pacar atau tidak. Hanya, karena masih sangat bodoh mendengarkan omongan miring beberapa orang ; “kok belum miliki pacar, sih? Jangan-jangan kamu l3sbi ya? Berdua terus sama si Lingling? ” Pada akhirnya, jatuh juga ke kubangan nista ‘pacaran’ yang beberapa jelas dilarang agama.
Kebetulan waktu itu ada lelaki yang naksir. Dasar lelaki pandai bermulut manis, saya juga terlena serta jatuh dengan bujuk rayunya. Lantaran miliki tujuan tertentu, pastinya apa pun caranya ia lakukan untuk memperoleh hatiku. Awalnya, ia mulai mencari tahu tentang saya melalui teman-teman terdekat. Hingga pada akhirnya kita berteman dengan cara langsung serta mulai sering berkomunikasi.
Lelaki ini memanglah pintar memikat hati, tidak perlu waktu lama hingga pada akhirnya saya betul-betul jatuh cinta kepadanya. Saya senantiasa ikut dengannya saat dia mengajakku main keluar. Kebetulan waktu kuliah saya nge-kost, jadi jauh dari perhatian orangtua.
Saya akui waktu pergi berdua, kami memanglah tidak pernah lakukan beberapa hal gila seperti remaja-remaja saat ini berpacaran.
Sesudah 2 bln. berjalan, lelaki ini seakan menghindar dari saya. Jangankan bertemu, membalas SMS saja tidak pernah. Pernah ajukan pertanyaan mengapa, apa saya berbuat salah? Ingin rasanya bertanya kelanjutan hubungan ini.
Tidak perlu menanti lama, lelaki inipun menghubungiku. Tetapi apa yang dibicarakannya sungguh membuat hati kecewa, ia berkata tidak ingin meneruskan hubungan.
Waktu itu ingin rasanya memakinya habis-habisan, bagaimana tidak? Waktu mendekatiku, dia bermanis-manis di depanku, berkenalan dengan cara gentle, serta menyampaikan secara langsung serius ingin menikah. Namun waktu ingin berpisah, dia cuma bicara kurang dari 10 menit melalui telephone serta seakan membuangku begitu saja.
Mengagumkan terpukulnya saya saat itu. Bukan lantaran aku ditinggal oleh lelaki yang saya sukai, tetapi caranya mengakhiri hubungan ini seperti membuang permen karet yang sudah tak manis lagi. Ya, saya merasa seperti permen karet yang dikunyah, di ambil rasa manisnya, lalu dibuang kapan saja, hina. Andai saja saya tahu seperti itu buruknya berpacaran, akan kujauhi sesuatu yang bernama “pacaran” itu.
Alhamdulillah sesudah bertaubat, saat ini saya sudah menikah serta melakukan kehidupan dengan suami yang jauh lebih baik dari lelaki yang pernah membuangku dulu. Memang benar, setelah menikah hidup semakin lebih tenang tanpa ada takut terbelenggu dosa zin4. (Ayu Putri Tarmina)
Dikutip dari http://beritaislamterbaru.org
